Wednesday, September 20, 2006

Meditates on Words (Part #2)


"Hear, O Israel: The LORD our God is one LORD: And thou shalt love the LORD thy God with all thine heart, and with all thy soul, and with all thy might. And these words, which I command thee this day, shall be in thine heart: And thou shalt teach them diligently unto thy children, and shalt talk of them when thou sittest in thine house, and when thou walkest by the way, and when thou liest down, and when thou risest up." - Deu 6:4-7


Kalau sebelumnya kita mendapat pengertian akan meditasi dalam kehidupan pribadi maka saat ini saya akan membawa anda semua untuk melihat bagaimana hal ini sangat berpengaruh di dalam kehidupan berkeluarga. Ulangan 6:4-7, Allah mengingatkan bangsa Israel untuk melakukan proses pengajaran perintah Tuhan kepada anak-anak mereka yang dilakukan secara berulang-ulang dan setiap saat. Proses pengajaran ini pada dasarnya adalah suatu proses perenungan atau meditasi yang difasilitasi oleh orang tua, jadi hal ini adalah suatu tanggung jawab dari orang tua (Apakah anda sudah memahami tanggung jawab ini?). Kalimat pada ayat 6 secara khusus perlu saya tekankan ialah "shall be in thine heart" ~ (harus kamu perhatikan - ada di dalam hatimu)... proses pembelajaran dan meditasi harus dimulai dari orang-tua untuk menjadi suatu pengajaran yang hidup bagi anak cucu anda.

Ketika kami berdua berkesempatan mengikuti kelas parenting "Growing Kids God's Way" dari Growing Family International, kami sungguh-sungguh sangat diberkati dengan setiap kebenaran Tuhan yang disampaikan dan secara implisit kami diingatkan bahwa untuk menghasilkan keluarga yang terbaik diperlukan orang tua yang terbaik. Maksud saya dengan 'terbaik' disini ialah orang tua haruslah mampu memancarkan gambar dan rupa Allah, sehingga akan dihasilkan anak-anak yang menghasilkan gambar dan rupa Allah. Menjadi suatu hal yang sangat penting bahwa hal ini hanya dapat terjadi ketika orang tua (suami-istri) hidup dalam perenungan (meditasi) akan Firman Tuhan.

Jika kita sadar akan hal ini, saya berharap ini saatnya bagi kita semua untuk mengambil komitmen memiliki waktu bermeditasi bagi Firman Tuhan. Kalau sebelumnya kita tahu bahwa ini berguna bagi diri kita pribadi namun saat ini kita juga memahami bahwa hal ini sangat berguna bagi kehidupan keluarga kita maka tidak ada jalan lain untuk tekun melakukannya... TYM!


Maz 128:1-6
Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya! Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu! Isterimu akan menjadi seperti anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu! Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN. Kiranya TUHAN memberkati engkau dari Sion, supaya engkau melihat kebahagiaan Yerusalem seumur hidupmu, dan melihat anak-anak dari anak-anakmu! Damai sejahtera atas Israel!

Meditates on Words (Part #1)



"This book of the law shall not depart out of thy mouth; but thou shalt meditate therein day and night, that thou mayest observe to do according to all that is written therein: for then thou shalt make thy way prosperous, and then thou shalt have good success." - Jos 1:8

Apakah ada di antara kita yang belum pernah membaca atau mendengar ayat ini? Rasanya hampir setiap kita pernah mendengar bahkan sering kali ayat ini menjadi salah satu ayat yang sangat disukai banyak orang Kristen karena mengandung janji keberhasilan dan kemakmuran, namun apakah kita sudah sungguh-sungguh menghayatinya... saya disini tidak akan membawa anda pada ekstrim teologia kemakmuran, tetapi ada sesuatu yang menggugah hati saya untuk secara khusus membahas tentang ini.

Adakah orang yang tidak ingin berhasil? Rasa-rasanya setiap orang pasti ingin berhasil... dan apa yang Alkitab katakan untuk keberhasilan? Setidaknya cukup banyak ayat-ayat di Alkitab yang memberikan janji keberhasilan bagi kehidupan anak-anak Tuhan, namun kok dalam kenyataannya sering kali yang terjadi tidak seperti apa yang kita pikirkan. Padahal kita anak-anak Tuhan kan? ;-) Ada suatu statement yang sering saya dengar "Kasih TUHAN tidak bersyarat namun Janji TUHAN bersyarat", dan secara pribadi saya sangat setuju dengan statement tesebut. Keselamatan yang kita peroleh memang 100% adalah bentuk kasih Allah kepada kita umatNya... tetapi ketika kita berbicara janji Tuhan maka pasti sebelumnya ada suatu prasyarat yang Tuhan perintahkan untuk kita lakukan. PR pertama: Sudahkah kita melakukan prasyarat tersebut sebelum kita meng-claim janji Tuhan dalam kehidupan kita?

Dalam kehidupan sehari-hari seringkali yang saya temui (termasuk yang tanpa saya sadari sering kali saya lakukan) adalah kita, sebagai anak-anak Tuhan, memiliki orientasi untuk memperoleh janji-janji Tuhan dalam kehidupan dengan melakukan prasyarat yang telah ditentukan sebelumnya. Mungkin banyak diantara kita mulai melakukan berbagai aktifitas pelayanan, memberikan perpuluhan, menghafalkan ayat-ayat Firman Tuhan, berdoa, berpuasa, berbuat baik - berbagai hal yang sebenarnya sangat baik namun sering kali hanya menjadi suatu kewajiban atau rutinitas agar kita memperoleh janji-janji Tuhan. Kita kehilangan esensi atau makna dasar dari mengapa kita melakukan semuanya itu, kita terlalu berfokus akan janji-janji Tuhan sehingga kita justru melupakan Tuhan yang merupakan sumber kehidupan kita itu sendiri. Mark Virkler dalam bukunya "How to Hear GOD's voice" mengingatkan kita tentang pentingnya keintiman bersama Tuhan. Hal ini juga yang kemudian membuat saya sadar bahwa ketika saya mulai membaca, mendengar dan merenungkan Firman Tuhan seharusnya itu adalah suatu bentuk reaksi kasih saya kepada Tuhan untuk dapat lebih dalam mengenal-Nya. Dengan demikian saya dimampukan untuk memahami rencana Tuhan dalam kehidupan saya. Sebab keberhasilan terbesar bagi kita adalah ketika kita menggenapi apa yang menjadi tujuan Tuhan dalam kehidupan kita...

Jadi apakah berarti janji Tuhan itu tidak mengandung janji berkat di dunia ini? Saya tidak pernah berkata seperti itu :-) bahkan saya percaya bahwa janji berkat sungguh-sungguh tersedia di dunia ini ketika kita memiliki sikap hati yang benar dan hidup dalam FirmanNya. Kuncinya adalah hidup dalam FirmanNya. Ever heard this Words:

"Blessed is the man that walketh not in the counsel of the ungodly, nor standeth in the way of sinners, nor sitteth in the seat of the scornful. But, his delight is in the law of the LORD; and in his law doth he meditate day and night. And he shall be like a tree planted by the rivers of water, that bringeth forth his fruit in his season; his leaf also shall not wither; and whatsoever, he doeth shall prosper." - Psalm 1:1-3

Sounds familiar right? Ya ayat-ayat yang mengawali kitab Mazmur ini merupakan salah satu ayat-ayat favorit bagi banyak orang, bahkan seorang Bishop David Oyedepo (www.winnerscanaanland.org) di Nigeria sangat begitu diberkati dengan firman ini dan ketika ia mengimani dan berjalan di dalamnya, kuasa Kebenaran itu telah mengubah kehidupan pribadi dan pelayanannya. Namun sekali lagi kita diingatkan dengan kata Meditate ~ Meditasi. Suatu kata yang sering kali berkesan 'kejawen' atau tidak alkitabiah tetapi dalam kenyataannya kita diperintahkan untuk bermeditasi terhadap Firman Tuhan.

Ketika kita mengaku percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruslamat dalam kehidupan kita maka Allah telah menganugerahkan Roh Kudus untuk tinggal dalam diri kita, namun mengapa tindakan (tubuh) kita sering kali masih bertindak di luar kebenaranNya? Salah satu penyebabnya adalah jiwa kita yang terdiri dari pikiran, perasaan dan kehendak masih terikat dengan masa lalu kita. Untuk itulah meditasi Firman adalah suatu sarana yang sangat penting yang Tuhan pakai agar pikiran kita mulai mengenal Tuhan dan kehendakNya dalam kehidupan kita, ketika pikiran kita dipenuhi Firman Tuhan maka hal itu akan mempengaruhi seluruh perasaan dan kehendak untuk berjalan di dalam FirmanNya. Sehingga apa yang kita lakukan berpadanan dengan FirmanNya... kalau sudah begini jangan heran kalau anda berhasil dalam segala sesuatu yang anda lakukan, karena hikmat Allah mengalir dalam hidup anda.

Jadi tunggu apalagi? Jangan alergi dengan kata meditasi, tapi mulailah ber-meditasi dengan Firman Tuhan dan kuasaNya akan memerdekakan kita. TYM!

"Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya." - Yoh 15:7

Tuesday, September 19, 2006

Love


"He that loveth not knoweth not God; for God is love." - 1John 4:8

Sadarkah anda bahwa kita telah diciptakan untuk dikasihi dan untuk mengasihi? Ayat yang tertulis diatas dan beberapa ayat-ayat lain menegaskan bahwa Allah adalah kasih. Jadi kalau kita dibentuk dengan gambar dan rupa Allah pasti kita juga akan menyatakan kasih.

Namun seringkali dalam kenyataannya kita gagal dalam mempraktekan kasih... jangankan mempraktekan, tidak jarang bahkan kita kehilangan esensi dan aplikasi dari kasih itu sendiri. Kalo menurut anda kira-kira apa arti kasih itu?

"Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu." - 1Kor 13:4-7

Nah rasanya penjelasan diatas sudah cukup jelas untuk kita bisa menerapkan kasih dalam hidup kita, dan secara pribadi saya belajar untuk mulai dengan keluarga kita.

Bahwa kita diciptakan dengan kapasitas untuk dapat mengasihi dan dikasihi memberikan warna yang penting dalam kehidupan seseorang. Sering kali kita mengasihi seseorang dengan berbagai tindakan, sikap, perkataan dan lain lain, namun tidak jarang ketika kita melakukannya, hal itu berakhir dengan suatu kekecewaan. Karena kita tidak melihat respons balik dari orang tersebut, sehingga yang terjadi adalah kekecewaan bahkan kepahitan... mungkin ada baiknya kita mengintrokpeksi diri apakah kita mengasihi dengan tulus tanpa syarat atau... (ada udang di balik batu).

Namun seringkali tanpa kita sadari kapasitas kita untuk dikasihi menuntut kita untuk memperoleh respons kasih seperti yang kita harapkan. Yang perlu kita perhatikan apakah memang orang yang kita kasihi itu tidak memberikan respons kepada kita atau kita tidak menyadarinya atau bahkan sebaliknya mereka justru tidak sadar bahwa kita telah menyatakan kasih kita kepada mereka :-(

Dalam bukunya, "The Five Languages of Love" , Dr Gary Chapman mencoba untuk menjabarkan bahwa secara garis besar ada 5 bahasa kasih bagaimana seseorang menyatakan kapasitasnya untuk mengasihi dan dikasihi:

1. Kata-kata Peneguhan (Words of Affirmation)
Mark Twain pernah berkata “I can live for two months on a good compliment.” Kata-kata apresiasi dapat menjadi suatu kekuatan yang luar biasa bagi banyak orang. Bahkan kata-kata pujian yang sederhana sekalipun seperti "Wow, engkau keren sekali hari ini", "Wah masakan buatanmu sangat lezat".
Orang dengan bahasa kasih ini sangat butuh untuk mendengarkan perasaan kasih melalui pernyataan yang diungkapkan bahwa mereka dikasihi. Selain itu sering kali kata-kata peneguhan memberikan semangat dan kepercayaan diri bagi mereka apalagi ketika perkataan itu keluar dari orang yang mengasihi mereka.

2. Waktu Berkualitas (Quality Time)
Waktu berkualitas bukanlah sekedar ada ditempat yang sama, tapi lebih dari itu yaitu memberikan fokus, perhatian dan energi kita kepada orang yang kita kasihi. Waktu yang berkualitas umumnya akan menghasilkan pembicaraan dan komunikasi yang berkualitas dimana kita bisa membagikan kehidupan kita, menjadi pendengar yang baik dan saling bertukar pikiran. Ingat menonton acara TV menarik sambil mendengarkan pasangan anda berbicara bukanlah waktu yang berkualitas bahkan makan malam yang romantis dapat saja berlangsung tanpa waktu yang berkualitas!

3. Hadiah (Receiving Gifts)
Beberapa orang merespon sangat baik pada bentuk visual dari kasih. Orang dengan bahasa kasih ini menganggap hadiah adalah ekpresi dari kasih sehingga ketika tidak memberikan mereka hadiah sering kali disalah artikan bahwa kita tidak lagi mengasihi mereka. Sering kali ini menjadi masalah pelik bagi orang yang biasa hidup 'hemat' mereka menganggap hal ini merupakan pemborosan, yang perlu diubah adalah paradigma bahwa kita tidak sedang menginvestasikan uang untuk hadiah tetapi lebih pada kedalaman hubungan kasih. Kita juga tidak harus selalu memberi hadiah dengan harga yang mahal tetapi lebih kepada hadiah atau pemberian yang bisa menyatakan cinta kita kepada orang yang kita kasihi.

4. Sikap Melayanai (Acts of Service)
Seringkali hal-hal sederhana yang kita lakukan adalah bentuk dari kasih kita kepada orang yang kita kasihi, bahkan hal kecil sekalipun seperti membuang sampah, menyiapkan sarapan, menyuci dan menyetrika karena sering kali itu membutuhkan waktu, tenaga dan energi. Seperti Yesus mendemonstrasikan ketika ia membersihkan kaki murid-muridNya. Merendahkan diri dan melayani bisa menjadi sesuatu bentuk ekspresi yang sangat luar biasa bagi orang yang kita kasihi jika mereka memiliki bahasa kasih ini.

5. Sentuhan Fisik (Physical Touch)
Beberapa orang sangat menyukai dan merasa dikasihi ketika mereka menerima sentuhan fisik dari orang lain. Digandeng, dipeluk, dicium merupakan suatu bentuk sentuhan fisik yang membawa rasa aman dan tentram bagi orang yang menggunakan bahasa kasih ini.

Selama ini sudahkah anda mengerti bahasa kasih anda dan anggota keluarga anda. Mungkin selama ini mereka mengasihi anda dengan cara yang anda anggap 'remeh' atau sebaliknya, ketika anda menyatakan bentuk kasih anda, mereka tidak menyadarinya karena itu bukan bahasa kasih yang utama bagi mereka.

Sebagai analogi adalah kehidupan saya sendiri. Saya adalah orang Indonesia, maka saya sangat mengerti ketika diajak berbicara bahasa Indonesia, dimanapun saya berada. Sebagai keturunan Jawa saya juga mengerti sebagian besar ucapan ketika ada orang yang berbahasa Jawa. Tetapi kalo istri saya sudah berbicara bahasa Batak, maka dengan terpaksa saya harus diam seribu bahasa sebab perbendaharaan saya untuk bahasa Batak sangat terbatas sehingga saya tidak mampu berkomunikasi dengan baik dengan bahasa tersebut. Hal ini sering terjadi ketika anggota keluarga tidak saling memahami bahasa kasih utama satu sama lain, sehingga sering kali terjadi miskomunikasi hingga kekecewaan.

Nah sekarang mungkin saatnya anda belajar bersama saya untuk mengetahui bahasa kasih orang-orang yang kita kasihi sehingga kapasitas kasih kita untuk mengasihi dan dikasihi pun semakin bertambah... dan mengalir kepada semua orang. Selamat Mengasihi! TYM...

Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya. - 1 Yoh 4:19-21

Monday, September 18, 2006

Creation Day - Family

"So God created man in His own image, in the image of God He created him; male and female He created them... And God saw every thing that He had made, and indeed, it was very good." - Genesis 1:27, 31a (NKJV)

Segala sesuatu pasti dimulai dari penciptaan termasuk kehidupan kita, kemudian dari penciptaan berlanjutlah ke hal-hal yang selanjutnya.

Ketika saya mengambil kata "cikal" sebagai judul dari blog ini jelas juga bukannya tanpa alasan. Karena bagi saya ada sebuah cikal yang membentuk saya dan dengan saya sadari ataupun tidak, saya akan menjadi cikal bagi keturunan-keturunan saya.

Ketika saya merenungkan arti sebuah keluarga, pikiran saya melayang kepada ayat-ayat pada hari penciptaan ketika manusia diciptakan. Allah menjadikan diriNya cikal bagi manusia ~ ketika Ia menjadikan manusia segambar dengan diriNya... waauuw isn't it amazing? Ketika Adam diciptakan ia diciptakan segambar dengan Allah namun ternyata dibutuhkan seorang penolong yang sepadan agar gambar dan rupa Allah itu nyata dan sempurna di dalam kehidupan manusia. Itulah untuk pertama kalinya entitas Keluarga dibentuk! Allah menjadi cikal bakal dari sebuah keluarga, maka sudah sewajarnya jika keluarga menyatakan gambar dan rupa Allah untuk menyatakan kemuliaanNya.

Apa yang terjadi saat ini??? Sudahkah keluarga kita menyatakan gambar dan rupa Allah? gleg

Tidak peduli kita punya anak atau tidak (btw: waktu itu Adam dan Hawa belum punya anak lho), keluarga kita seharusnya memperlihatkan kemuliaan Allah dan itu hanya bisa dimulai ketika suami istri yang menjadi cikal menyatakan kemuliaan Allah... karena kalo kita bicara soal anak berarti kita siap untuk memultiplikasi gambar dan rupa Allah itu dalam kehidupan mereka, udah siap belom? hahahaha... kalo belom mungkin lebih baik fokus dulu sebagai suami istri :-)

Nah sekarang pertanyaannya bagi kita adalah apakah sebagai suami istri kita sudah saling mengasihi dan itu dirasakan oleh orang-orang sekitar kita. Apakah kita lebih sering marah, kesal, kecewa, sebel kepada pasangan kita dibandingkan memperhatikan, menolong, mendengarkan... deelel.. sebagai bentuk kasih kita? we'd better ask ourselves

...mungkin ini sebabnya kenapa kok kayaknya dunia semakin hari semakin tidak bersahabat, soalnya cikal Allah yang bermula dari keluarga tidak pernah lagi memancar dalam kehidupan manusia... kalau begitu maukah anda kembali menjadi cikal yang memancarkan gambar dan rupa Allah untuk mengubah dunia ini... mari bersama kita mulai dalam kasih karunia dan anugerah Allah. TYM

"Behold, I will send you Elijah the prophet before the coming of the great and dreadful day of the LORD: And he shall turn the heart of the fathers to the children, and the heart of the children to their fathers, lest I come and smite the earth with a curse." Mal 4:5-6

Prakata

Apa sih yang ada dipikiran kita kalo kita denger kata "Cikal"... sebagian kita pasti langsung mengaitkan dengan kata cikal bakal yang (kalo tidak salah) artinya adalah sesuatu yang menjadi asal muasal dan kemudian menurunkan generasi baru. Berhubung saya gak punya kamus bahasa indonesia lagi sejak meninggalkan bangku sekolah :-( saya pun mencoba untuk mencari di google dan saya temukan kata cikal yang berarti buah nyiur (kelapa) dalam keadaan tumbuh... mmmm terus apa hubungannya dengan blog ini?

Kata CIKAL saya pergunakan sebagai singkatan dari Citra Keluarga Allah - suatu blog pribadi yang memuat isi hati saya tentang kehidupan berkeluarga dalam kaitannya dengan Tuhan.

Berhubung baru belajar menulis, saya mohon maaf jika banyak kekurangan... selamat menikmati dan Tuhan Yesus memberkati!