Monday, May 21, 2007

Pernikahan suatu Ikat Janji

Dan kamu bertanya: "Oleh karena apa?" Oleh sebab TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan isteri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu. -Mal 2:14

Beberapa bulan yang lalu saya sempat membaca buku karangan Derek Prince yang berjudul "Pernikahan - suatu ikatan yang kudus". Dalam buku itu dijabarkan bagaimana Tuhan membentuk pernikahan manusia sebagai suatu ikatan perjanjian (covenant).

Covenant adalah suatu ikatan komitmen tertinggi yang dapat dibuat oleh manusia. Covenant sendiri mengandung arti bahwa dua pihak bersepakat untuk tidak lagi hidup bagi dirinya sendiri namun hidup bagi siapa dia mengikat perjanjian. Dan covenant ditandai dengan pencurahan darah.

Setidaknya ada 2 peristiwa ikat janji (covenant) besar yang dikenal oleh umat percaya:
  • Perjanjian Lama, ditandai dengan suatu ikat janji yang dilakukan Tuhan kepada Abraham sebagai bapa orang beriman dengan penumpahan darah korban hewan yang disiapkan oleh Abraham (Kej )
  • Perjanjian Baru, dinyatakan dengan suatu ikat janji yang dilakukan Tuhan dengan semua orang percaya melalui penumpahan darah Yesus Kristus di atas kayu salib.

Namun jarang dari kita memahami bahwa ada suatu ikat janji yang dinyatakan dengan penumpahan darah pada saat pernikahan pertama dilakukan di dunia ini. Ya, hal itu terjadi saat tulang rusuk Adam diambil sebagai bahan dasar dalam penciptaan Hawa. Ada darah yang tercurah saat pernikahan pertama terjadi, yang menyatakan suatu ikatan perjanjian.

Oleh karena itu sebagaimana layaknya suatu ikatan perjanjian, dalam setiap pernikahan, seorang suami seharusnya tidak lagi hidup bagi dirinya sendiri tetapi bagi istrinya, demikian juga sebaliknya seorang istri tidak lagi hidup bagi dirinya sendiri tetapi bagi suaminya. Dan sebagai tanda dari ikatan perjanjian ini maka kita mengenal adanya selaput dara yang berdarah dalam suatu pernikahan yang kudus. Sungguh menarik bagaimana Tuhan merancangkan kita dengan begitu detail... sekarang pertanyaannya adalah "Sudahkan pernikahan saudara dilandaskan pada covenant yang Tuhan telah rancangkan bagi saudara?"

Monday, May 14, 2007

Adakah Ia mendapati iman di bumi?

Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?" - Luk 18:8

Iman...

Beberapa waktu yang lalu saya mendengar seorang teman lama di gereja yang terkenal baik telah berpindah iman karena memperistri wanita yang tidak seiman, setelah sebelumnya ia melewati kekecewaan demi kekecewaan saat membina hubungan dengan wanita yang seiman

Suatu kali saya mendengar seorang hamba Tuhan yang luar biasa di masa mudanya, dipenuhi dengan karunia-karunia yang adikodrat, meninggal dalam kondisi yang sangat mengenaskan: miskin dan mabuk-mabukan.

Di lain waktu saya mendengar kakak kelas saya di kampus yang dahulu begitu rohani namun sekarang punya sepak terjang yang 'luar biasa' dalam bagaimana ia bersikap di pekerjaan. Kemana kerohanian yang ia miliki saat kuliah?

Suatu waktu saya mendengar tentang hamba Tuhan yang diurapi luar biasa pada masa mudanya namun akhirnya memilih jalur dalam dunia selebritis dan meninggalkan pelayanannya

Atau dalam situasi dunia kerja, dimana para aktivis rohani yang begitu giat dalam pelayanan di kampus dahulu tidak lagi memiliki kerinduan untuk bersekutu di dunia kerja. Dan mencoba untuk memisahkan kehidupan kerjanya dan kehidupan rohaninya

Saya tidak tahu apakah ini yang Tuhan pertanyakan tentang iman saat Dia kembali untuk ke dua kalinya. Terus terang saya sama sekali tidak punya hak untuk menilai atau menetapkan. Namun kalimat sebelum pertanyaan itu diutarakan oleh Tuhan Yesus menjadi perenungan iman bagi saya "Ia akan segera membenarkan mereka" - suatu pernyataan nubuatan yang Yesus utarakan mengacu pada pengorbananNya di atas kayu salib yang akan membenarkan setiap orang percaya.

Jadi bagaimana dengan pertanyaan berikutnya "Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?" - apakah ini nubuatan Yesus untuk zaman ini? saya tidak bisa menjawabnya, namun ketika dunia semakin menawarkan berbagai hal yang seakan-akan begitu menggiurkan... begitu banyak orang yang telah beralih prioritasnya... list di atas hanyalah sebagian dari keadaan di sekitar kita.

Mungkin saatnya kita bertanya dalam hati kita "Adakah Ia mendapati iman di bumi?"