Friday, February 11, 2011

Berkat

Seberapa dari kita yang sering berdoa dan meminta berkat dari Tuhan. Tahun ini saja banyak gereja dan hamba-hamba Tuhan yang menyatakan bahwa tahun ini adalah tahun lawatan Tuhan dimana Tuhan akan mempromosi anak-anakNya, akan ada pelipatgandaan dalam kehidupannya, ada berkat-berkat yang tak terpikirkan akan mengalir dalam kehidupan orang percaya.

Sebagai bagian dari kumpulan orang percaya, saya mengaminkan setiap janji yang Tuhan nyatakan melalui hamba-hambaNya. Karena saya sungguh percaya Tuhan punya rencana yang indah, menyenangkan dan sempurna dalam kehidupan setiap orang yang mengasihiNya. Namun pagi hari ini ketika saya membayangkan berkat-berkat itu :-) saya justru diingatkan tentang anak-anak.
Lo, children are an heritage of the LORD: and the fruit of the womb is his reward - Psalm 127:3
Adakah selama ini kita melihat anak-anak kita sebagai berkat. Bukankah mereka adalah berkat yang luar biasa? coba anda bayangkan jika anda mempunyai benda pusaka atau kekayaan yang paling anda sukai dan anda harus memberikan benda yang paling bergharga itu kepada seseorang... ya anak-anak kita adalah berkat yang luar biasa, Tuhan mempercayakan milik pusakanya kepada kita, betapa kita adalah orang yang Tuhan anggap sangat penting dan Ia percaya.
  • Jadi apakah selama ini kita memelihara berkat itu dengan baik ketika kita bertanggung jawab membesarkan anak-anak kita di jalan Tuhan?
  • Apakah kita menikmati berkat itu setiap saat ketika kita meluangkan waktu beraktifitas bersama anak-anak kita?
  • Apakah kita sungguh-sungguh melihat dan mengasihi anak kita seperti Yesus melihat dan mengasihi anak kita sebagai milik pusakaNya?
Mungkin masih ada banyak pertanyaan lain yang harusnya kita tanyakan pada diri kita sendiri. Sehingga saya sendiri jadi berpikir, mungkin di tahun ini justru berkat-berkat Tuhan yang luar biasa yang Dia janjikan itu dinyatakan dalam kehidupan anak-anak kami. Ketika kami boleh melihat mereka bertumbuh sehat tubuh, jiwa dan rohnya, semakin mengasihi Tuhan, mengalami terobosan-terobosan rohani, menjadi garam bagi teman-temannya, menjadi bijak dan pintar, dll. Dimana sesungguhnya kita belum sungguh-sungguh menabur, menyiram dan memelihara mereka dengan baik... sehingga akhirnya kita mengakui berkat yang luar biasa itu sungguh datang dari Tuhan yang melimpahkan kita dengan kasih karuniaNya!

Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati. - Maz 112:2

Monday, May 21, 2007

Pernikahan suatu Ikat Janji

Dan kamu bertanya: "Oleh karena apa?" Oleh sebab TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan isteri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu. -Mal 2:14

Beberapa bulan yang lalu saya sempat membaca buku karangan Derek Prince yang berjudul "Pernikahan - suatu ikatan yang kudus". Dalam buku itu dijabarkan bagaimana Tuhan membentuk pernikahan manusia sebagai suatu ikatan perjanjian (covenant).

Covenant adalah suatu ikatan komitmen tertinggi yang dapat dibuat oleh manusia. Covenant sendiri mengandung arti bahwa dua pihak bersepakat untuk tidak lagi hidup bagi dirinya sendiri namun hidup bagi siapa dia mengikat perjanjian. Dan covenant ditandai dengan pencurahan darah.

Setidaknya ada 2 peristiwa ikat janji (covenant) besar yang dikenal oleh umat percaya:
  • Perjanjian Lama, ditandai dengan suatu ikat janji yang dilakukan Tuhan kepada Abraham sebagai bapa orang beriman dengan penumpahan darah korban hewan yang disiapkan oleh Abraham (Kej )
  • Perjanjian Baru, dinyatakan dengan suatu ikat janji yang dilakukan Tuhan dengan semua orang percaya melalui penumpahan darah Yesus Kristus di atas kayu salib.

Namun jarang dari kita memahami bahwa ada suatu ikat janji yang dinyatakan dengan penumpahan darah pada saat pernikahan pertama dilakukan di dunia ini. Ya, hal itu terjadi saat tulang rusuk Adam diambil sebagai bahan dasar dalam penciptaan Hawa. Ada darah yang tercurah saat pernikahan pertama terjadi, yang menyatakan suatu ikatan perjanjian.

Oleh karena itu sebagaimana layaknya suatu ikatan perjanjian, dalam setiap pernikahan, seorang suami seharusnya tidak lagi hidup bagi dirinya sendiri tetapi bagi istrinya, demikian juga sebaliknya seorang istri tidak lagi hidup bagi dirinya sendiri tetapi bagi suaminya. Dan sebagai tanda dari ikatan perjanjian ini maka kita mengenal adanya selaput dara yang berdarah dalam suatu pernikahan yang kudus. Sungguh menarik bagaimana Tuhan merancangkan kita dengan begitu detail... sekarang pertanyaannya adalah "Sudahkan pernikahan saudara dilandaskan pada covenant yang Tuhan telah rancangkan bagi saudara?"

Monday, May 14, 2007

Adakah Ia mendapati iman di bumi?

Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?" - Luk 18:8

Iman...

Beberapa waktu yang lalu saya mendengar seorang teman lama di gereja yang terkenal baik telah berpindah iman karena memperistri wanita yang tidak seiman, setelah sebelumnya ia melewati kekecewaan demi kekecewaan saat membina hubungan dengan wanita yang seiman

Suatu kali saya mendengar seorang hamba Tuhan yang luar biasa di masa mudanya, dipenuhi dengan karunia-karunia yang adikodrat, meninggal dalam kondisi yang sangat mengenaskan: miskin dan mabuk-mabukan.

Di lain waktu saya mendengar kakak kelas saya di kampus yang dahulu begitu rohani namun sekarang punya sepak terjang yang 'luar biasa' dalam bagaimana ia bersikap di pekerjaan. Kemana kerohanian yang ia miliki saat kuliah?

Suatu waktu saya mendengar tentang hamba Tuhan yang diurapi luar biasa pada masa mudanya namun akhirnya memilih jalur dalam dunia selebritis dan meninggalkan pelayanannya

Atau dalam situasi dunia kerja, dimana para aktivis rohani yang begitu giat dalam pelayanan di kampus dahulu tidak lagi memiliki kerinduan untuk bersekutu di dunia kerja. Dan mencoba untuk memisahkan kehidupan kerjanya dan kehidupan rohaninya

Saya tidak tahu apakah ini yang Tuhan pertanyakan tentang iman saat Dia kembali untuk ke dua kalinya. Terus terang saya sama sekali tidak punya hak untuk menilai atau menetapkan. Namun kalimat sebelum pertanyaan itu diutarakan oleh Tuhan Yesus menjadi perenungan iman bagi saya "Ia akan segera membenarkan mereka" - suatu pernyataan nubuatan yang Yesus utarakan mengacu pada pengorbananNya di atas kayu salib yang akan membenarkan setiap orang percaya.

Jadi bagaimana dengan pertanyaan berikutnya "Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?" - apakah ini nubuatan Yesus untuk zaman ini? saya tidak bisa menjawabnya, namun ketika dunia semakin menawarkan berbagai hal yang seakan-akan begitu menggiurkan... begitu banyak orang yang telah beralih prioritasnya... list di atas hanyalah sebagian dari keadaan di sekitar kita.

Mungkin saatnya kita bertanya dalam hati kita "Adakah Ia mendapati iman di bumi?"

Thursday, October 12, 2006

Kristen Domba


"Know ye that the LORD, He is God: it is He that hath made us, and not we ourselves; we are his people, and the sheep of his pasture." - Psa 100:3

Beberapa minggu ini saya banyak belajar tentang karakter domba sebagai bagian untuk merenungkan dan memahami Mazmur 23 dalam kehidupan saya sehari-hari. Semakin dalam saya semakin menyadari, bahwa banyak dari kita yang telah kehilangan pengertian untuk menjadi 'Kristen Domba'. Rasanya kok sebagai orang percaya kita lebih senang disebut Kristen Rajawali atau Kristen Singa, moso' kita disamain sama domba seeh. Apalagi kalo kita lihat sifat-sifatnya yang terkesan lemah dan tidak mampu apa-apa. Namun demikian semakin saya merenungkan, semakin saya menyadari, bahwa sifat-sifat domba seharusnya menjadi sifat-sifat dasar orang percaya!

Pasti bukan suatu kebetulan ketika Tuhan Yesus sendiri menganalogikan kita sebagai domba, karena Yesus sangat mengenal karakteristik domba. Dan Firman Tuhan beberapa kali menganalogikan kita sebagai domba, mengapa bukan binatang lain yang lebih kuat? Kuda, singa, serigala, macan? atau yang lainnya deh, pokoknya yang lebih kuat... kenapa harus domba?

Saya jadi teringat beberapa bulan lalu saya sempat membaca artikel di glorianet tentang mengapa TUHAN tidak mengizinkan bangsa Israel mempergunakan kuda sebagai sarana untuk berperang? Beberapa alasannya anatra lain adalah kuda dikenal sebagai lambang kegagahan dan kekuatan sehingga sangat mudah bagi bangsa Israel hanya mengandalkan kuda-kuda mereka dan tidak mengandalkan TUHAN, sangat mudah pula bagi mereka untuk menjadi sombong ketika mereka memperoleh kemenangan, selain itu pada zaman tersebut untuk memiliki pasukan kuda yang banyak maka suatu bangsa akan berafiliasi dengan Mesir, dimana pada saat itu menjadi tempat pusat peternakan kuda-kuda gagah, sehingga membentuk suatu hubungan yang sifatnya ketergantungan.

Sebaliknya ketika saya merefleksikan sifat-sifat domba, saya mendapati bahwa domba mungkin lemah tapi itu yang membuat mereka sangat bergantung kepada gembala, domba mengenal dengan baik suara gembalanya dan sangat taat, domba sangat sulit untuk hidup soliter, domba adalah mahluk komuni yang saling berbagi, domba menikmati saat-saat tenang ketika makan, domba adalah binatang yang makan pada waktu pagi dan memamah biak makanan itu selanjutnya, dan masih banyak sifat-sifat lainnya.

Dari beberapa sifat diatas terlintas beberapa pertanyaan dikepala saya:
  • Apakah kita sungguh-sunguh bergantung dan bersandar kepada Gembala kita dalam kehidupan kita?
  • Apakah kita mampu mengenal suara Gembala kita?
  • Apakah kita mengasihi Gembala kita dan taat mengikutiNya?
  • Apakah kita menghormati dan mentaati otoritas yang Dia taruh dalam kehidupan kita?
  • Apakah kita telah menjadi bagian dari suatu kawanan domba Allah? atau kita masih keluar masuk kandang seperti domba yang liar?
  • Apakah kita telah berbagi kasih dengan kawanan domba dimana kita berada?
  • Apakah kita menyediakan waktu khusus untuk bersekutu dengan Dia dan menikmati makanan yang telah Dia sediakan?
  • Apakah kita mencari Dia setiap pagi?
  • Apakah kita merenungkan setiap perkataanNya disepanjang hari yang kita lewati?
  • Apakah kita ???
  • Apakah kita ??
  • Apakah kita ?
Dan masih banyak pertanyaan lain yang berpadanan dengan sifat-sifat domba yang lainnya, yang seharusnya sungguh-sunguh menjadi sifat-sifat dasar orang percaya, sehingga ketika TUHAN mempercayakan kita menjadi rajawali kita tidak akan pernah kehilangan sifat dasar kita, bahwa sumber segala kehidupan kita ialah TUHAN.

Sayang sekali, bahwa nilai-nilai ini sudah jarang disentuh dalam pengajaran-pengajaran iman Kristiani saat ini, sehingga beberapa orang percaya terjatuh ketika TUHAN mempercayakan perkara-perkara yang lebih besar dalam hidup mereka. Tidak ada yang salah dengan menjadi Rajawali-rajawali dan Singa-singanya Allah, tapi biarlah kita tetap memiliki sifat domba di dalam hati kita yang terdalam, sehingga ketika kita diberkati dan dipercayakan berbagai hal besar maka kita tetap senantiasa mengucap syukur dan berpengharapan pada TUHAN.

Saya berharap setiap kita semua bisa belajar untuk bisa menjadi domba yang taat dan setia bersandar serta mengandalkan TUHAN dalam setiap langkah kehidupan kita! TYM


Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! - Yer 17:7

Special thanks to Pak Heru who theached us with "Sheep Christianity"

Thursday, October 05, 2006

Gembala yang Baik

The LORD is my shepherd;
I shall not want.
He maketh me to lie down in green pastures:
he leadeth me beside the still waters.
He restoreth my soul:
he leadeth me in the paths of righteousness for his name's sake.
Yea, though I walk through the valley of the shadow of death, I will fear no evil:
for thou art with me; thy rod and thy staff they comfort me.
Thou preparest a table before me in the presence of mine enemies:
thou anointest my head with oil; my cup runneth over.
Surely goodness and mercy shall follow me all the days of my life:
and I will dwell in the house of the LORD forever.

Psalm 23

(Belajar merenungkan Firman Tuhan)

Rasanya sudah berungkali kita membaca dan menyanyikan ayat-ayat di atas, tapi sudahkah kita menghayatinya secara sungguh memiliki Seorang Gembala yang Baik dalam kehidupan kita?

Bagi saya kunci yang paling mendasar untuk dapat merenungkan Mazmur 23 adalah ketika kita memahami secara sungguh-sungguh karakter dan kehidupan seekor domba! Nah gimana bagi kita yang umumnya sejak lahir selalu ada di kota, jangankan tau karakter dan cara hidupnya.... bentuknya aja sering gak tau :-( yah pokoknya itu deh yang bulunya tebel... lah emangnya gak ada kambing yang bulunya tebel? tambah bingung khan hehehehe

Tapi kita gak akan terlalu pusing dengan gambaran fisik domba tapi kita akan lebih fokus ke arah karakteristik domba. Sebab bukan suatu kebetulan jika Tuhan Yesus dalam Mat 25 mengibaratkan kita sebagai kawanan yang perlu dipisahkan menurut jenisnya domba atau kambing? Untuk itulah maka saat ini kita perlu tahu apa saja karakter-karakter domba sebagai cermin karakter hidup kita:
  • Domba adalah makhluk komunitas: domba senang bergerombol dan sulit untuk hidup sendiri
  • Domba sangat membutuhkan pimpinan: karena tidak memiliki penglihatan yang baik domba perlu diarahkan untuk itulah gembala berjalan di depan, saat sendiri dan tidak dipimpin domba menjadi mudah tersesat bahkan sering jatuh ke jurang atau terperangkap semak berduri
  • Domba tidak suka bertengkar: domba tidak saling berebut areal makanan tapi suka berbagi tempat bersama
  • Domba sangat membutuhkan perlindungan: karena tidak memiliki senjata untuk membela diri melawan binatang-binatang buas domba sangat berharap pada perlindungan gembala
  • Domba sangat membutuhkan pertolongan: disebabkan karena ketebalan bulunya, ketika banyak berlarian suhu badannya mudah naik dan ia membutuhkan gembala untuk memberikan air yang segar, selain itu saat jatuh terlentang domba yang berbulu tebal juga sangat sulit untuk membalikkan badannya sehingga perlu bantuan gembala
  • Domba mengenal suara gembala
  • Domba percaya dan taat

Ketika kita memahami dan memiliki karakter-karakter domba diatas, kita akan dimampukan untuk lebih dalam memahami setiap perkataan di Mazmur 23. Kita juga menjadi mengerti bahwa kita tidak akan mampu hidup tanpa Gembala yang baik, yaitu Tuhan Yesus. Dan ketika kita menjadikan Yesus sebagai Gembala kita maka kita menyadari bahwa hidup kita ada dalam pimpinan dan perlindungan yang paling aman dan yang terbaik.

Mau menjadi Kristen Domba? atau masih mau seperti kambing? Selamat memilih.... TYM!

Mat 25:31-33 "Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya.
Mat 25:34 Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.
Mat 25:41 Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.

Wednesday, September 20, 2006

Meditates on Words (Part #2)


"Hear, O Israel: The LORD our God is one LORD: And thou shalt love the LORD thy God with all thine heart, and with all thy soul, and with all thy might. And these words, which I command thee this day, shall be in thine heart: And thou shalt teach them diligently unto thy children, and shalt talk of them when thou sittest in thine house, and when thou walkest by the way, and when thou liest down, and when thou risest up." - Deu 6:4-7


Kalau sebelumnya kita mendapat pengertian akan meditasi dalam kehidupan pribadi maka saat ini saya akan membawa anda semua untuk melihat bagaimana hal ini sangat berpengaruh di dalam kehidupan berkeluarga. Ulangan 6:4-7, Allah mengingatkan bangsa Israel untuk melakukan proses pengajaran perintah Tuhan kepada anak-anak mereka yang dilakukan secara berulang-ulang dan setiap saat. Proses pengajaran ini pada dasarnya adalah suatu proses perenungan atau meditasi yang difasilitasi oleh orang tua, jadi hal ini adalah suatu tanggung jawab dari orang tua (Apakah anda sudah memahami tanggung jawab ini?). Kalimat pada ayat 6 secara khusus perlu saya tekankan ialah "shall be in thine heart" ~ (harus kamu perhatikan - ada di dalam hatimu)... proses pembelajaran dan meditasi harus dimulai dari orang-tua untuk menjadi suatu pengajaran yang hidup bagi anak cucu anda.

Ketika kami berdua berkesempatan mengikuti kelas parenting "Growing Kids God's Way" dari Growing Family International, kami sungguh-sungguh sangat diberkati dengan setiap kebenaran Tuhan yang disampaikan dan secara implisit kami diingatkan bahwa untuk menghasilkan keluarga yang terbaik diperlukan orang tua yang terbaik. Maksud saya dengan 'terbaik' disini ialah orang tua haruslah mampu memancarkan gambar dan rupa Allah, sehingga akan dihasilkan anak-anak yang menghasilkan gambar dan rupa Allah. Menjadi suatu hal yang sangat penting bahwa hal ini hanya dapat terjadi ketika orang tua (suami-istri) hidup dalam perenungan (meditasi) akan Firman Tuhan.

Jika kita sadar akan hal ini, saya berharap ini saatnya bagi kita semua untuk mengambil komitmen memiliki waktu bermeditasi bagi Firman Tuhan. Kalau sebelumnya kita tahu bahwa ini berguna bagi diri kita pribadi namun saat ini kita juga memahami bahwa hal ini sangat berguna bagi kehidupan keluarga kita maka tidak ada jalan lain untuk tekun melakukannya... TYM!


Maz 128:1-6
Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya! Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu! Isterimu akan menjadi seperti anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu! Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN. Kiranya TUHAN memberkati engkau dari Sion, supaya engkau melihat kebahagiaan Yerusalem seumur hidupmu, dan melihat anak-anak dari anak-anakmu! Damai sejahtera atas Israel!

Meditates on Words (Part #1)



"This book of the law shall not depart out of thy mouth; but thou shalt meditate therein day and night, that thou mayest observe to do according to all that is written therein: for then thou shalt make thy way prosperous, and then thou shalt have good success." - Jos 1:8

Apakah ada di antara kita yang belum pernah membaca atau mendengar ayat ini? Rasanya hampir setiap kita pernah mendengar bahkan sering kali ayat ini menjadi salah satu ayat yang sangat disukai banyak orang Kristen karena mengandung janji keberhasilan dan kemakmuran, namun apakah kita sudah sungguh-sungguh menghayatinya... saya disini tidak akan membawa anda pada ekstrim teologia kemakmuran, tetapi ada sesuatu yang menggugah hati saya untuk secara khusus membahas tentang ini.

Adakah orang yang tidak ingin berhasil? Rasa-rasanya setiap orang pasti ingin berhasil... dan apa yang Alkitab katakan untuk keberhasilan? Setidaknya cukup banyak ayat-ayat di Alkitab yang memberikan janji keberhasilan bagi kehidupan anak-anak Tuhan, namun kok dalam kenyataannya sering kali yang terjadi tidak seperti apa yang kita pikirkan. Padahal kita anak-anak Tuhan kan? ;-) Ada suatu statement yang sering saya dengar "Kasih TUHAN tidak bersyarat namun Janji TUHAN bersyarat", dan secara pribadi saya sangat setuju dengan statement tesebut. Keselamatan yang kita peroleh memang 100% adalah bentuk kasih Allah kepada kita umatNya... tetapi ketika kita berbicara janji Tuhan maka pasti sebelumnya ada suatu prasyarat yang Tuhan perintahkan untuk kita lakukan. PR pertama: Sudahkah kita melakukan prasyarat tersebut sebelum kita meng-claim janji Tuhan dalam kehidupan kita?

Dalam kehidupan sehari-hari seringkali yang saya temui (termasuk yang tanpa saya sadari sering kali saya lakukan) adalah kita, sebagai anak-anak Tuhan, memiliki orientasi untuk memperoleh janji-janji Tuhan dalam kehidupan dengan melakukan prasyarat yang telah ditentukan sebelumnya. Mungkin banyak diantara kita mulai melakukan berbagai aktifitas pelayanan, memberikan perpuluhan, menghafalkan ayat-ayat Firman Tuhan, berdoa, berpuasa, berbuat baik - berbagai hal yang sebenarnya sangat baik namun sering kali hanya menjadi suatu kewajiban atau rutinitas agar kita memperoleh janji-janji Tuhan. Kita kehilangan esensi atau makna dasar dari mengapa kita melakukan semuanya itu, kita terlalu berfokus akan janji-janji Tuhan sehingga kita justru melupakan Tuhan yang merupakan sumber kehidupan kita itu sendiri. Mark Virkler dalam bukunya "How to Hear GOD's voice" mengingatkan kita tentang pentingnya keintiman bersama Tuhan. Hal ini juga yang kemudian membuat saya sadar bahwa ketika saya mulai membaca, mendengar dan merenungkan Firman Tuhan seharusnya itu adalah suatu bentuk reaksi kasih saya kepada Tuhan untuk dapat lebih dalam mengenal-Nya. Dengan demikian saya dimampukan untuk memahami rencana Tuhan dalam kehidupan saya. Sebab keberhasilan terbesar bagi kita adalah ketika kita menggenapi apa yang menjadi tujuan Tuhan dalam kehidupan kita...

Jadi apakah berarti janji Tuhan itu tidak mengandung janji berkat di dunia ini? Saya tidak pernah berkata seperti itu :-) bahkan saya percaya bahwa janji berkat sungguh-sungguh tersedia di dunia ini ketika kita memiliki sikap hati yang benar dan hidup dalam FirmanNya. Kuncinya adalah hidup dalam FirmanNya. Ever heard this Words:

"Blessed is the man that walketh not in the counsel of the ungodly, nor standeth in the way of sinners, nor sitteth in the seat of the scornful. But, his delight is in the law of the LORD; and in his law doth he meditate day and night. And he shall be like a tree planted by the rivers of water, that bringeth forth his fruit in his season; his leaf also shall not wither; and whatsoever, he doeth shall prosper." - Psalm 1:1-3

Sounds familiar right? Ya ayat-ayat yang mengawali kitab Mazmur ini merupakan salah satu ayat-ayat favorit bagi banyak orang, bahkan seorang Bishop David Oyedepo (www.winnerscanaanland.org) di Nigeria sangat begitu diberkati dengan firman ini dan ketika ia mengimani dan berjalan di dalamnya, kuasa Kebenaran itu telah mengubah kehidupan pribadi dan pelayanannya. Namun sekali lagi kita diingatkan dengan kata Meditate ~ Meditasi. Suatu kata yang sering kali berkesan 'kejawen' atau tidak alkitabiah tetapi dalam kenyataannya kita diperintahkan untuk bermeditasi terhadap Firman Tuhan.

Ketika kita mengaku percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruslamat dalam kehidupan kita maka Allah telah menganugerahkan Roh Kudus untuk tinggal dalam diri kita, namun mengapa tindakan (tubuh) kita sering kali masih bertindak di luar kebenaranNya? Salah satu penyebabnya adalah jiwa kita yang terdiri dari pikiran, perasaan dan kehendak masih terikat dengan masa lalu kita. Untuk itulah meditasi Firman adalah suatu sarana yang sangat penting yang Tuhan pakai agar pikiran kita mulai mengenal Tuhan dan kehendakNya dalam kehidupan kita, ketika pikiran kita dipenuhi Firman Tuhan maka hal itu akan mempengaruhi seluruh perasaan dan kehendak untuk berjalan di dalam FirmanNya. Sehingga apa yang kita lakukan berpadanan dengan FirmanNya... kalau sudah begini jangan heran kalau anda berhasil dalam segala sesuatu yang anda lakukan, karena hikmat Allah mengalir dalam hidup anda.

Jadi tunggu apalagi? Jangan alergi dengan kata meditasi, tapi mulailah ber-meditasi dengan Firman Tuhan dan kuasaNya akan memerdekakan kita. TYM!

"Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya." - Yoh 15:7

Tuesday, September 19, 2006

Love


"He that loveth not knoweth not God; for God is love." - 1John 4:8

Sadarkah anda bahwa kita telah diciptakan untuk dikasihi dan untuk mengasihi? Ayat yang tertulis diatas dan beberapa ayat-ayat lain menegaskan bahwa Allah adalah kasih. Jadi kalau kita dibentuk dengan gambar dan rupa Allah pasti kita juga akan menyatakan kasih.

Namun seringkali dalam kenyataannya kita gagal dalam mempraktekan kasih... jangankan mempraktekan, tidak jarang bahkan kita kehilangan esensi dan aplikasi dari kasih itu sendiri. Kalo menurut anda kira-kira apa arti kasih itu?

"Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu." - 1Kor 13:4-7

Nah rasanya penjelasan diatas sudah cukup jelas untuk kita bisa menerapkan kasih dalam hidup kita, dan secara pribadi saya belajar untuk mulai dengan keluarga kita.

Bahwa kita diciptakan dengan kapasitas untuk dapat mengasihi dan dikasihi memberikan warna yang penting dalam kehidupan seseorang. Sering kali kita mengasihi seseorang dengan berbagai tindakan, sikap, perkataan dan lain lain, namun tidak jarang ketika kita melakukannya, hal itu berakhir dengan suatu kekecewaan. Karena kita tidak melihat respons balik dari orang tersebut, sehingga yang terjadi adalah kekecewaan bahkan kepahitan... mungkin ada baiknya kita mengintrokpeksi diri apakah kita mengasihi dengan tulus tanpa syarat atau... (ada udang di balik batu).

Namun seringkali tanpa kita sadari kapasitas kita untuk dikasihi menuntut kita untuk memperoleh respons kasih seperti yang kita harapkan. Yang perlu kita perhatikan apakah memang orang yang kita kasihi itu tidak memberikan respons kepada kita atau kita tidak menyadarinya atau bahkan sebaliknya mereka justru tidak sadar bahwa kita telah menyatakan kasih kita kepada mereka :-(

Dalam bukunya, "The Five Languages of Love" , Dr Gary Chapman mencoba untuk menjabarkan bahwa secara garis besar ada 5 bahasa kasih bagaimana seseorang menyatakan kapasitasnya untuk mengasihi dan dikasihi:

1. Kata-kata Peneguhan (Words of Affirmation)
Mark Twain pernah berkata “I can live for two months on a good compliment.” Kata-kata apresiasi dapat menjadi suatu kekuatan yang luar biasa bagi banyak orang. Bahkan kata-kata pujian yang sederhana sekalipun seperti "Wow, engkau keren sekali hari ini", "Wah masakan buatanmu sangat lezat".
Orang dengan bahasa kasih ini sangat butuh untuk mendengarkan perasaan kasih melalui pernyataan yang diungkapkan bahwa mereka dikasihi. Selain itu sering kali kata-kata peneguhan memberikan semangat dan kepercayaan diri bagi mereka apalagi ketika perkataan itu keluar dari orang yang mengasihi mereka.

2. Waktu Berkualitas (Quality Time)
Waktu berkualitas bukanlah sekedar ada ditempat yang sama, tapi lebih dari itu yaitu memberikan fokus, perhatian dan energi kita kepada orang yang kita kasihi. Waktu yang berkualitas umumnya akan menghasilkan pembicaraan dan komunikasi yang berkualitas dimana kita bisa membagikan kehidupan kita, menjadi pendengar yang baik dan saling bertukar pikiran. Ingat menonton acara TV menarik sambil mendengarkan pasangan anda berbicara bukanlah waktu yang berkualitas bahkan makan malam yang romantis dapat saja berlangsung tanpa waktu yang berkualitas!

3. Hadiah (Receiving Gifts)
Beberapa orang merespon sangat baik pada bentuk visual dari kasih. Orang dengan bahasa kasih ini menganggap hadiah adalah ekpresi dari kasih sehingga ketika tidak memberikan mereka hadiah sering kali disalah artikan bahwa kita tidak lagi mengasihi mereka. Sering kali ini menjadi masalah pelik bagi orang yang biasa hidup 'hemat' mereka menganggap hal ini merupakan pemborosan, yang perlu diubah adalah paradigma bahwa kita tidak sedang menginvestasikan uang untuk hadiah tetapi lebih pada kedalaman hubungan kasih. Kita juga tidak harus selalu memberi hadiah dengan harga yang mahal tetapi lebih kepada hadiah atau pemberian yang bisa menyatakan cinta kita kepada orang yang kita kasihi.

4. Sikap Melayanai (Acts of Service)
Seringkali hal-hal sederhana yang kita lakukan adalah bentuk dari kasih kita kepada orang yang kita kasihi, bahkan hal kecil sekalipun seperti membuang sampah, menyiapkan sarapan, menyuci dan menyetrika karena sering kali itu membutuhkan waktu, tenaga dan energi. Seperti Yesus mendemonstrasikan ketika ia membersihkan kaki murid-muridNya. Merendahkan diri dan melayani bisa menjadi sesuatu bentuk ekspresi yang sangat luar biasa bagi orang yang kita kasihi jika mereka memiliki bahasa kasih ini.

5. Sentuhan Fisik (Physical Touch)
Beberapa orang sangat menyukai dan merasa dikasihi ketika mereka menerima sentuhan fisik dari orang lain. Digandeng, dipeluk, dicium merupakan suatu bentuk sentuhan fisik yang membawa rasa aman dan tentram bagi orang yang menggunakan bahasa kasih ini.

Selama ini sudahkah anda mengerti bahasa kasih anda dan anggota keluarga anda. Mungkin selama ini mereka mengasihi anda dengan cara yang anda anggap 'remeh' atau sebaliknya, ketika anda menyatakan bentuk kasih anda, mereka tidak menyadarinya karena itu bukan bahasa kasih yang utama bagi mereka.

Sebagai analogi adalah kehidupan saya sendiri. Saya adalah orang Indonesia, maka saya sangat mengerti ketika diajak berbicara bahasa Indonesia, dimanapun saya berada. Sebagai keturunan Jawa saya juga mengerti sebagian besar ucapan ketika ada orang yang berbahasa Jawa. Tetapi kalo istri saya sudah berbicara bahasa Batak, maka dengan terpaksa saya harus diam seribu bahasa sebab perbendaharaan saya untuk bahasa Batak sangat terbatas sehingga saya tidak mampu berkomunikasi dengan baik dengan bahasa tersebut. Hal ini sering terjadi ketika anggota keluarga tidak saling memahami bahasa kasih utama satu sama lain, sehingga sering kali terjadi miskomunikasi hingga kekecewaan.

Nah sekarang mungkin saatnya anda belajar bersama saya untuk mengetahui bahasa kasih orang-orang yang kita kasihi sehingga kapasitas kasih kita untuk mengasihi dan dikasihi pun semakin bertambah... dan mengalir kepada semua orang. Selamat Mengasihi! TYM...

Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya. - 1 Yoh 4:19-21